Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label TOURISM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOURISM. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2009

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI UNTUK MEMACU PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA


Pariwisata tidak dipungkiri lagi berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian di Bali. Dalam hal ini pariwisata menimbulkan multiflier effect bagi seluruh aktivitas ekonomi di Bali. Sebagai contoh : Pariwisata membutuhkan sarana akomodasi, restoran, bar dan fasilitas penunjang lainnya. Satu buah hotel yang didirikan akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu hotel membutuhkan berbagai supplier untuk memasok kebutuhan hotel. Tenaga kerja yang diserap hotel juga membutuhkan berbagai macam kebutuhan hidupnya, sehingga muncul berbagai macam pusat perbelanjaan, demikian seterusnya rantai ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas pariwisata sebagai akibat dari multilier effect tersebut.
TIK, sangat menunjang perkembangan pariwisata, dengan TIK maka informasi dan komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, efisien dan akurat yang mampu mereduce human error. Sebagai contoh alikasi TIK, yakni penggunaan software LIBICA, FIDELIO sebagai Program Piranti Lunak Hotel Information System. Dengan menggunakan software tersebut informasi mengenai kepastian pemesanan kamar, kepastian rekening tamu, informasi tamu yang akan datang ke hotel, tamu yang sedang tinggal di hotel dan tamu yang akan meninggalkan hotel. Informasi yang cepat, tepat dan akurat tersebut akan membuat tamu puas dan senang tinggal dihotel. Kepuasan tamu akan menyebabkan tamu akan kembali lagi untuk berlibur di Bali dan tinggal di hotel tersebut. Jika dikaitkan dengan tujuan berdirinya sebuah hotel, yakni : Profit through guest satisfaction, and get a repeat business through word of mouth communication, peranan TIK dirasakan sangat vital. Kondisi ini berlaku juga untuk perusahaan lainnya yang berperan sebagai entitas ekonomi (mengelola sumber daya yang ada untuk dapat ditukarkan kepada pasar sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar/konsumen sehingga tercapai kepusan pasar/konsumen)

Dari sisi Ekonomi, yang berfungsi untuk mengelola seluruh sumber daya (man, material, money,machine, method, market) melalui fungsi manajemen (planning, organising, actuating, controlling dan evaluating) sehingga mampu menciptakan produk yang memiliki nilai/value yang mampu memuaskan kebutuhan konsumen, peranan ekonomi dan pariwisata merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Mengacu pada definisi pariwisata : Suatu fenomena yang menyebabkan perpindahan orang dari satu tempat (tempat tinggalnya) ke tempat yang bukan tempat tinggalnya untuk kebutuhan bersenag-senang (leisure), tidak untuk mencari nafkah, menetap dan tidak untuk tujuan vokasional, dimana perpindahan ini membutuhkan berbagai sarana dan prasarana pariwisata. Pada poin ini, kebutuhan sarana dan prasarana pariwisata semestinya dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi, khususnya (Manajemen : Keuangan, pemasaran,sdm dan operasional) serta akuntansi.
Dengan manajemen keuangan, maka perusahaan-perusahaan dalam indusri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menggunakan alternative sumber-sumber pendanaan yang murah serta mampu menginvestasikannya pada sector yang menguntungkan.
Dengan manajemen pemasaran, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menciptakan produk yang mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar.
Dengan manajemen sumber daya manusia, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola sumber daya manusia, sebagai kunci sukses persaingan bisnis.
Dengan manajemen operasional, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan memperhatikan konsep keberlanjutan (sustainability) melalui konsep CSR (Consumen Social Responsibility), menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang tidak mencemari lingkungan.

Jumat, 20 Maret 2009

SOSIAL BUDAYA PARIWISATA 2

Unsur sosial budaya yang menjadi daya tarik wisatawan (Spillane,2008)
  1. Kerajinan, adalah segala sesuatu yang merupakan hasil kegiatan manusia yang berwujud benda unik, indah dan menarik. Contoh : Topeng,Patung, gantungan kunci, lukisan dan anyam-anyaman
  2. Bahasa, adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi, tidak berwujud . Contoh : Bahasa Bali, Bahasa Indonesia
  3. Tradisi-tradisi, adalah kebiasaan-kebiasaan dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang terjadi secara turun menurun dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh : Manusa yadnya, pitra yadnya, rsi yadnya
  4. Gastronomi, adalah hal-hal yang menyangkut makanan / kuliner/tata boga yang meliputi cita rasa, bahan baku, teknik pengolahan dan teknik penyajian. Contoh : masakan/hidangan khas bali
  5. Kesenian/Musik, adalah wujud ekspresi keindahan yang terlahir dari cipta rasa dan karsa dan terwujud dalam gerak, suara dan gambar. Contoh : tari bali, kidung/geguritan/kekawin, seni lukis
  6. Sejarah, adalah hasil perbuatan masa lampau dari suatu bangsa yang menjadi sebab dari suatu fenomena / keadaan masyarakat saat ini. Contoh : Sejarah kerajaan nusantara.
  7. Pekerjaan, adalah segala sesuatu yang dilakukan sebagai sumber penghidupan, dimana dengan melakukan hal tersebut akan mendapatkan wan prestasi. Contoh : Pekerjaan sebagai nelayan, petani, perajin, seniman dsb
  8. Arsitektur, adalah perwujudan seni pada tata bangunan dan tata ruang dan dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Contoh : arsitektur bali
  9. Agama, adalah jalan hidup manusia untuk mendekatkan diri bahkan menyatu kepada Sang Pencipta. Contoh : Hindu, Budha,Kristen, Islam
  10. Pendidikan, adalah suatu proses yang berkesinambungan dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan seseorang
  11. Mode / Costume, adalah segala sesuatu yang sedang populer pada saat sekarang dan sangat diminati masyarakat
  12. Leisure (waktu luang), adalah segala sesuatu yang dilakukan pada waktu luang dengan aktivitas yang mampu memberi efek relaksasi pada diri.
Tantangan dan peluang yang dihadapi SDM Pariwisata di era globalisasi :
  1. Tantangan, Kondisi masyarakat dunia dan masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan, menghadapi tata hubungan antar bangsa yang makin terbuka bebas. Arus informasi budaya yang datang dari luar makin meningkat dan tidak dapat dicegah.
  2. Peluang, Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam , budaya dan kesenian, yang memiliki potensi untuk pengembangan pariwisataIndonesia memiliki jumlah penduduk yang besar yang berpotensi untuk menggerakkan industri pariwisata
  3. Budaya Indonesia yang ramah tamah, berperilaku sopan dan menghargai tamu
Posisi sumber daya manusia pariwisata Indonesia / Bali dewasa ini dalam persaingan global :
Pada akhir bulan Oktober lalu, the World Economic Forum (WEF) menerbitkan Index Daya Saing Pariwisata Dunia tahun 2007. Index ini menempatkan Indonesia pada peringkat 60. Sedangkan Singapura berada pada no. 8, Malaysia no. 31 dan Thailand no. 43. Lagi-lagi ini merupakan kenyataan yang harus dihadapi Indonesia. Ternyata bahwa penilaian WEF terhadap “daya saing” tidak saja diukur dari keindahan alam dan keaneka ragaman budaya dari suatu destinasi. Bukan juga semata masalah harga yang kurang menarik, ataupun sektor swasta yang kalah berbisnis. ”Rapor” daya saing versi WEF ini didasarkan kepada 13 kriteria, yaitu: perundangan, peraturan dan kebijakan yang menata dan mengembangkan pariwisata dan perjalanan (Tourism and Travel); Kebijakan lingkungan hidup; Keamanan destinasi; Kebersihan; Kesehatan; penempatan Travel and Tourism sebagai prioritas pembangunan; Infrastruktur Perhubungan Udara; Infrastruktur Pariwisata; Infrastruktur Teknologi Informasi; Daya Saing Harga; mutu dan kinerja Sumber Daya Manusia; Persepsi nasional terhadap Pariwisata; dan baru terakhir: Sumber Daya Alam dan Budaya. Jelas bahwa sebagian terbesar merupakan kewenangan instansi lain di luar Pariwisata.
Penilaian Index Pariwisata Indonesia pada tingkat 60, selain didasarkan pada statistik dan data, mau tidak mau juga didasarkan kepada persepsi dunia yang oleh media televisi global termasuk media di Indonesia sendiri, memberi kesan bahwa negara ini tetap kurang aman, kotor, tidak sehat, dll. yang semuanya menghambat keinginan dan nyali wisatawan untuk berlibur di Indonesia. Tetapi jujur saja, selain faktor eksternal, ada juga masalah internal kepariwisataan yang bermuara kepada lemahnya Indonesia bersaing di kancah pariwisata global. Bila kita teliti kriteria yang menjadi dasar penilaian WEF diatas, maka sebenarnya kelemahan Pariwisata Indonesia terletak pada lemahnya Management dan Kepemimpinan Destinasi di setiap tingkat, lemahnya profesionalisme SDM di semua tingkatan, tidak jelasnya Political Will (dari Eksekutif maupun Legislatif) yang secara konsisten memprioritaskan pengembangan kepariwisataan, yang terasa pada minimnya anggaran yang dialokasikan kepada sektor ini, sehingga dengan sendirinya Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara lain yang memiliki biaya jauh lebih besar bagi pembangunan dan pemasaran sektor pariwisata. Dan tidak kalah penting adalah kenyataan bahwa Komunikasi internasional Indonesia di pihak Pemerintah maupun pada berita media domestik ke luar negeri masih sangat lemah. Indonesia jarang meng-counter tuduhan dan berita negatif yang dilontarkan dunia internasional, sehingga berita dan citra yang usang perihal terjadinya teror, penyakit menular, bencana alam, kecelakaan pesawat di Indonesia masih melekat pada persepsi masyarakat dunia, yang berakibat kepada hilangnya kepercayaan (trust) wisatawan bahwa Indonesia adalah destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Posisi ideal yang diharapkan di masa yang akan datang :
Sumber daya manusia Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan sumber daya manusia global. Oleh karenanya perlu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata Indonesia, melalui pendidikan, pelatihan dan program sertifikasi tenaga kerja pariwisata Indonesia . Sedikit tidaknya SDM Pariwisata dalam waktu dekat sudah mampu naik peringkatnya dari urutan 53 menuju urutan 52, 51 s/d 1.
Hanya sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas, baik dalam produk maupun pelayanan dapat hidup dalam persaingan global. Pernyataan ini sangat tepat, karena seperti kita ketahui bersama tingkat persaingan di dalam industri pariwisata dewasa ini sudah sangat tinggi. Oleh karenanya salah satu cara untuk bertahan dan memenangkan persaingan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Terlebih lagi di dalam industri pariwisata, produk utama yang dijual adalah pelayanan, dimana pelayanan yang prima (excellent service) hanya dapat dilakukan oleh manusia. Jika pelayanan sudah dilakukan dengan sebaik mungkin, maka kepuasan wisatawan akan dapat dicapai. Kunci strategis memenangkan persaingan adalah dengan menjamin kepuasan wisatawan melalui kualitas sumber daya manusia.
Pelaksanaan pembangunan pariwisata bagi suatu negara adalah terwujudnya kesejahteraan dan perdamaian dunia.
Pernyataan ini menunjukkan dengan pariwisata maka kesejahteraan terwujud, karena terjadi aktifitas ekonomi (transaksi) yang dapat menimbulkan efek multiflier. Hal ini tentunya akan mengarah pada pemerataan pendapatan dan berakhir pada peningkatan kesejahteraan.Perdamaian dapat diwujudkan melalui peran pariwisata, karena dengan adanya pariwisata maka terjadi pertukaran budaya dan nilai-nilai luhur, terjadi pula hubungan persahabatan dengan berbagai macam bangsa di dunia, kondisi kondusif ini akan menimbulkan suatu konsep berpikir pada masyarakat pariwisata dan berkembang pada masyarakat umum bahwa pada hakekatnya semua manusia di bumi ini adalah sama (tatwam asi), sama-sama ciptaan Tuhan, dibawah matahari, bulan dan bintang yang sama.

SOSIAL BUDAYA PARIWISATA

Pariwisata adalah keseluruhan gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang timbul akibat perpindahan/perjalanan orang-orang dari satu tempat ke tempat yang lain, dimana perpindahan tersebut bertujuan untuk bersenang-senang, tidak mencari nafkah maupun menetap. Perjalanan tersebut membutuhkan sarana-sarana seperti akomodasi (penginapan), pelayanan makanan dan minuman (restauran dan bar), fasilitas-fasilitas penunjang lainnya (SPA, kolam renang,business center, dsb.), biro perjalanan, alat-alat transportasi, pemandu wisata, objek wisata dsb yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, harapan orang-orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan bersenang-senang tersebut (wisatawan)
Dalam arti sempit, pariwisata merujuk pada aktivitas perjalanan untuk kepentingan penyegaran diri pribadi, untuk pendidikan, dan untuk bersenang-senang. Dalam arti luas, pariwisata adalah bisnis yang menyediakan informasi, transformasi, akomodasi, dan pelayanan lain bagi wisatawan.

Mengapa pelayanan sangat penting dalam dunia industri pariwisata?
Industri pariwisata adalah kumpulan dari berbagai perusahaan yang secra bersama-sama menghasilkan barang/jasa yang dibutuhkan para wisatawan selama dalam perjalanan. Induastri pariwisata sangat mengutamakan jasa sebagai produk yang ditawarkan, karena itu pariwisata menekankan pada jasa pelayananan. Industri pariwisata adalah bisnis pelayanan yang menekankan pada orang, bukan pada peralatan. Tidak ada pengetahuan teknis atau keterampilan yang bisa menggantikan pengabdian tulus seseorang untuk melayani dan berdasarkan standar etika yang tinggi. Oleh karena itu, pelayanan sangat penting artinya dalam industri pariwisata.




Apa tanda-tanda industri pariwisata terbesar di dunia?
Tanda-tanda industri pariwisata terbesar di dunia:
a. Dilihat dari kelengkapan sarana dan prasarana pariwisata, tentunya industri pariwisat terbesar di dunia memiliki kelengkapan melebihi industri-industri lainnya. Misalnya jumlah hotel (akomodasi) , restoran, dan fasilitas penunjang lainnya yang sangat memadai
b. Dilihat dari dampak positif pariwisata terhadap sosial budaya masyarakat, dan lingkungan hidup, tentunya pariwisata dapat memberikan banyak kemajuan terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat dan lingkungan hidup. Hal ini disebabkan karena dengan berkembangnya pariwisata yang memberikan juga dampak negatif, dimana masyarakat, pemerintah dan pengusaha sudah mampu menanggulanginya.
c. Dilihat dari trend , pariwisata sudah bergeser dari konsep mass tourism menuju alternative tourism (green tourism, wilderness turism, ecotourism) dan pengembangan pariwisata menggunakan konsep sustainable tourism dengan melibatkan masyarakat (community based tourism).

Mengapa setiap negara dewasa ini cenderung melaksanakan pembangunan pariwisata?
Setiap negara cendrung melaksanakan pembangunan pariwisata, karena melihat trend pariwisata dewasa ini yang cenderung memberikan dampak positif lebih besar daripada pengembangan industri-industri lainnya. Dampak positif yang lebih besar seperti : penerimaan devisa, pemberantasan pengangguran dan lebih ramah lingkungan dibandingkan pengembangan industri lainnya seperti industri otomotif, tekstil, mesin, kimia dsb.




Paradigma hubungan timbal balik antara pariwisata dengan sosial budaya masyarakat.
Hubungan pariwisata dengan sosial budaya masyarakat, yaitu:
· mewujudkan pembangunan bersama
· memeanfaatkan kebudayaan sebagai sumber daya pariwisata
· kebudayaan tidak boleh dieksploitasi sebagai alat untuk mengembangkan pariwisata
· tanpa pengendalian kebudayaan asli, akan terjadi dampak negatif pariwisata
· kebudayaan merupakan unsur pariwisata yang penting, tetapi mudah rusak karena pariwisata, hal-hal tesebut diatas dapat diuraikan dalam skema berikut:

Apa dampak pesatnya perkembangan pariwisata terhadap sosial budaya. Dan apa langkah-langkah untuk memecahkan dampak negatif pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya.
Dampak pariwisata terhadap sosial budaya memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif yaitu :
Meningkatkan ilmu pengetahuan
Meningkatkan pendapatan
Meningkatkan hubungan persaudaraan antar bangsa dan negara
Dampak negatif yaitu :
· Pencemaran lingkungan
· Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan peruntukkkan
· Kerawanan ssil
· Pergeseran nilai

Langkah-langkah yang diambil untuk memecahkan dampak negatif pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya: yaitu mengedepankan pembangunan pariwisata secara holistik, yaitu yang meliputi agama, adat, budaya, sosial, ideologi, plitik, ekonmi, teknologi. Selain itu dikelbangkan juga pembangunan pariwisata berkelanjutan dimana usaha ini menjamin sumber daya alam, sosial, dan budaya yang dimanfaatkan sebagai sumber pembangunan pariwisata dewasa ini yang dilestarikan untuk generasi mendatang. Pengelola pariwisata hari ini bertanggung jawab untuk menjamin keberlanjutannya bagi generasi mendatang. Hal-hal tersebut diatas dilakukan untuk memecahkan damnpak negatif dari pengaruh pariwisata terhadap sosial budaya.

Jumat, 06 Maret 2009

BALI SYNDROME

THE BALI SYNDROME” :THE EXPLOSION AND IMPLOSION OF ‘EXOTIC’ TOURIST SPACES

Bali sindrom, adalah sebuah usaha untuk menggambarkan adanya semacam perubahan sosial budaya yang terjadi karena pengaruh pariwisata yang terjadi di Bali. Perilaku wisatawan yang berkunjung ke Bali secara tidak disadari merubah dan menggerogoti kehidupan masyarakat Bali. Dalam tulisan Claudio Minea yang sungguh luar biasa ini, dengan tingkat intelektualitasnya yang tinggi justru menjadi hambatan baginya dalam mentransfer ide-idenya tentang pariwisata di Bali. Pemilihan bahasa inggris ’tingkat tinggi’ bahkan ada beberapa kosa kata yang tidak ada di kamus Poerwadarminta, menjadikan seni tersendiri dalam mereview tulisan Minea ini.
Pariwisata merupakan sebuah fenomena yang disebabkan perpindahan orang-orang dari satu tempat ke tempat lainnya yang bersifat sementara, dengan tujuan bersenang-senang, tidak mencari nafkah maupun menetap. Konsep mass tourism yang diterapkan di Bali selama ini, memberikan landscape tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Di satu sisi pembangunan pariwisata di Bali memberikan nuansa budaya barat yang megah dan gemerlap, namun disisi lain Bali menampakkan wajah yang buram mengenai pembangunan pariwisatanya, dimana masih dapat dilihat potret kemiskinan disetiap sudut pulau bali.
Kesimpulannya, Minea mengharapkan agar pembangunan pariwisata di Bali memperhatikan konsep keseimbangan, agar nantinya Bali kedepannya menjadi lebih baik, dimana pembangunan pariwisata tidak menyisakan suatu potret buram kehidupan masyarakat Bali yang masih akrab dengan kemiskinan, bau, kriminal yang sungguh kontras dengan kemegahan hotel-hotel yang ada di kawasan Nusa Dua, Kuta, Sanur dan Jimbaran.