Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 26 Januari 2010

KEAMANAN TRANSAKSI DAN PARIWISATA

Pariwisata adalah sebuah industri besar yang menjanjikan banyak keuntungan. Industri ini sangat membutuhkan stabilitas, atau dengan kata lain, industri ini sangat volatil/labil terhadap perubahan-perubahan. Beberapa minggu terakhir bulan Januari 2010 terjadi pembobolan kartu atm di beberapa bank terkemuka seperti BNI, BCA dan BRI.

Keadaan ini tentunya berdampak tidak baik bagi kepariwisataan di Bali. Wisatawan tentunya merasa tidak nyaman dalam menggunakan perangkat transaksi elektronik. Masyarakatpun merasa cemas karena khawatir dana yang tersimpan di Bank akan hilang.

Para pelaku pembobolan rekening nasabah diperkirakan menggunakan perangkat yang cukup murah, yang dapat dibeli dengan mudah secara online. Pakar teknologi informasi digital forensik Ruby Z Alamsyah menduga pembobolan dengan modus tersebut dilakukan oleh sindikat yang bekerja secara rapi dan profesional. Menurut Ruby, pencurian uang nasabah melalui transaksi ATM ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih. Bahkan untuk memperoleh peralatan tersebut tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal. "Setidaknya, ada tiga empat alat yang digunakan untuk mencuri uang nasabah melalui ATM. Alat itu adalah ATM skimmer, spy camera, magnetic writer, dan alat untuk membuat kartu ATM palsu,” katanya kepada Koran Seputar Indonesia, kemarin. Dia menuturkan, bukan hal sulit untuk mendapatkan seluruh peralatan itu karena hanya membutuhkan modal sekitar USD1.000 hingga USD1.500 atau tidak lebih dari Rp15 juta rupiah. "Apalagi seluruh peralatan itu bisa dibeli melalui internet," tambahnya.

Sulit bagi nasabah untuk melakukan langkah antisipasi. Salah satu yang bisa dilakukan nasabah, kata Ruby, adalah dengan mengenal betul alat ATM skimmer itu. Sayangnya nasabah di Indonesia belum paham bagaimana bentuk ATM skimmer sehingga perlu sosialisasi untuk mengenal alat itu.Menurut Ruby, dalam kasus ini, tanggung jawab antisipasi berada di industri perbankan. Kejadian ini menunjukkan bahwa prosedur keamanan bank masih belum optimal.

Oleh karena itu perlu diperkuat sistem keamanan dalam bertransaksi. Sebuah tantangan bagi dunia perbankan kita dan pakar Information and Technology untuk mengembangkan sistem yang mampu mencegah terjadinya kasus pembobolan ATM yang sangat meresahkan masyarakat dan mengganggu kenyamanan para wiatawan dalam melakukan transaksi.

Human Relations dalam Industri Pariwisata

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Hubungan antar manusia merupakan hal yang penting dalam kelancaran suatu kegiatan apapun,terutama dalam suatu organisasi ataupun pekerjaan. Karena suatu hubungan antara manusia yang baik akan menciptakan suatu keharmonisan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Manusia merupakan individu yang berbeda-beda maka secara langsung atau tidak langsung akan menciptakan permasalahan besar maupun kecil. Maka diperlukan diperlukan penguasaan Human Relations yang baik untuk memecahkan masalah yang ada. Seiring berjalannya waktu, Human Relations sangat penting fungsinya dalam kehidupan masa kini terutama untuk seorang supervisor hotel yang tugasnya mengawasi para bawahannya sehingga bisa menciptakan hubungan yang harmonis dengan para karyawan maupun dengan para tamu hotel. Terutama sebagai supervisor menguasai ilmu hubungan antar manusia khususnya dalam industri perhotelan, akan mempermudah kinerjanya untuk berinteraksi dengan tamu-tamu hotel, kolega, atasan maupun bawahannya sehingga standar operational procedur bisa berjalan dengan baik.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi dari hubungan antar manusia ( Human Relations)?

2. Apa sasaran utama dalam mempelajari ilmu hubungan antar manusia?

3. Apa prinsip-prinsip hubungan antar manusia?

4. Bagaimana korelasi hubungan antar manusia dengan profesi supervisor?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui betapa penting adanya Human Relations dalam suatu perusahaan atau hotel dimana fungsinya adalah untuk mengetahui keluhan dan keinginan dari pelanggan yang dimiliki sehingga kita bisa mengetahui kekurangan-kekurangan dari perusahaan yang dijalankan sehingga kekurangan-kekurangan yang ada bisa dikaji kembali untuk meningkatkan kualitas perusahaan.

BAB II

PEMBAHASAN

HUMAN RELATIONS

2.1 PENGERTIAN SEORANG SUPERVISOR

Seorang supervisor, lebih-lebih lagi dalam industri perhotelan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari akan selalu berhubungan dengan manusia, baik tamu-tamu hotel, atasan, kolega dan para bawahannya. Untuk itu kemampuan untuk membina hubungan antara manusia yang harmonis adalah merupakan persyaratan yang perlu dimiliki oleh seorang supervisor. Dalton E. Mc. Farland dalam bukunya “management, principles and practices” mendefinisikan hubungan antara manusia sebagai berikut : “Human relations may be defined as the science which studies the activities, attitude and relationship existing among people at work”. (Hubungan antara manusia dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari kegiatan, sikap dan saling hubungan diantara orang-orang yang ada di pekerjaan). Konsep yang mendasari pentingnnya hubungan antara manusia adalah adanya perbedaan-perbedaan individu atau “individual differences” dimana setiap individu itu adalah pribadi yang unik (unique personality) yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan ini meliputi perbedaan fisik, kecerdasan, sikap, latar belakang sosial, kebutuhan, motivasi, harapan dan lain-lain. Implikasi dari perbedaan-perbedaan individu inilah yang menimbulkan berbagai masalah hubungan antara manusia dalam pekerjaan. Beberapa indikasi dari adanya masalah-masalah hubungan antara manusia tersebut antara lain :

- Tingkat perputaran pegawai (employee turnover) yang tinggi.

- Ketidak hadiran dan keterlambatan dalam pekerjaan.

- Sikap acuh tak acuh dan lalai terhadap tugas dan tanggung jawab.

- Biaya-biaya operasional yang tinggi.

- Mutu pelayanan yang tidak mencapai standar yang diharapkan.

- Keluhan-keluhan dari pihak karyawan.

- Beban pekerjaan dari pimpinan pada b erbagai tingkatan semakin meningkat.

Sebagai konsekwensi daripada masalah-masalah diatas adalah menurunnya citra dari hotel tersebut yang selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya kerugian yang tidak sedikit.

2.2 TUJUAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA

Secara singkat dapat dikatakan bahwa tujuan daripada hubungan antar manusia itu tidak lain adalah untuk mengingatkan seseorang (orang-orang) bekerja dengan semangat kerjasama yang produktif, tapi dengan rasa senang dan puas. Hubunagn antar manusia itu dikatakan efektif apabila tercipta hubungan yang harmonis diantara orang-orang yang ada dipekerjaan. Hal ini terutama sekali dirasakan oleh para supervisor di hotel yang selalu berhubungan dengan tamu-tamu hotel, para bawahan dan atasannya. Dalam hal ini setiap supervisor diharapkan dapat mengerti dengan baik bagaimana seseorang berprilaku dan berinteraksi satu sama llainnya. Secara lebih terinci dapat dijelaskan tujuan dan sasaran daripada hubungan antar manusia itu sendiri :

a. Untuk menciptakan hubungan kemanusiaan yang menyenangkan dalam pekerjaan.

b. Untuk mengembangkan dan memelihara moril karyawan yang tinggi, tingkat turnover pegawai yang rendah serta produktifitas kerja yang tinggi.

c. Untuk meningkatkan reputasi hotel, melalui pelayanan yang memuaskan bagi setiap tamu atau langganan hotel.

d. Untuk mengurangi terjadinya bentrokan-bentrokan diantara karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

e. Untuk mengembangkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan.

f. Untuk memudahkan pekerjaan daripada supervisor dan pimpinan lainnya di perusahaan.

2.3 PRINSIP-PRINSIP HUBUNGAN ANTARA MANUSIA ( HUMAN RELATIONS )

Pada uraian berikut ini kita akan mencoba mengkaji beberapa prinsip hubungan antar manusia itu sendiri. Prinsip-prinsip tersebut antara lain meliputi :

a. Hargailah setiap orang tanpa memandang pekerjaan status atau kedudukan yang dimilikinya.

b. Laksanakanlah hubungan (Human Relations) yang baik dengan tulus ikhlas, karena sikap berpura-pura akan cepat diketahui orang lain.

c. Ketahuilah dengan baik keinginan dan motivasi anda untuk mencegah timbulnya pebedaan-perbedaan dengan pihak yang diajak berhubungan.

d. Janganlah merasa ragu-ragu bila anda terpaksa harus mengambil tindakan yang kurang menyenangkan terutama sekali dalam usaha menegakkan disiplin.

e. Buat agar setiap orang merasa dirinya penting didalam setiap kelompok kerja atau di perusahaan. Seorang akan bekerja lebih baik dan lebih bertanggung jawab bila dia merasa dirinya penting diantara orang-orang lain.

f. Mengertilah terhadap keinginan dan motivasi orang lain dan juga terhadap hal-hal yang dapat memuaskan keinginannya.

g. Setiap interaksi yang terjadi akan dapat menciptakan, meningkatkan atau merubah sikap seseorang terhadap yang lainnya bergantung pada pengalaman mereka selama interaksi itu terjadi.

h. Berikanlah contoh prilaku yang baik dalam setiap kali kita berinteraksi atau berhubungan dengan orang alin.

i. Sering-seringlah mengadakan komunikasii dengan bawahan anda untuk dapat memahaminya dengan baik.

j. Berikanlah penghargaan dengan tulus ikhlas bila hal tersebut sudah sepatutnya diberikan kepada seseorang, tapi jangan sampai hal itu terlalu berlebihan.

k. Bila kita harus memberikan kritik atau teguran janganlah hal itu dilakukan dihadapan orang lain.

l. Ucapkanlah selalu salam seperti : selamat pagi, apa kabar, terimakasih, silahkan dan ucapan salam lainnya dengan tulus ikhlas.

m. Delegasikanlah sebanyak mungkinwewenang dengan tanggung jawab yang dapat kita berikan kepada bawahan, dalam batas-batas penugasan yang wajarr.

n. Janganlah anda membiarkan seseorang menunggu anda dengan maksud untuk membuat diri anda sebagai orang penting.

o. Bersikaplah membantu kepada bawahan, karena tidak jarang bawahan itu membutuhkan uluran tangan kita.

p. Perhatikanlah selalu keadaan fisik bawahan. Tunjukanlah simpati anda kepada bawahan yang menunjukan rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaan walaupun kondisi fisiknya kurang memungkinkan.

q. Buatlah agar pekerjaan itu selalu memberikan tantangan bagi bawahan, tapi hindarilah jangan sampai tantangan itu diluar kemampuan bawahan tadi untuk dikerjakannya.

r. Jangan berpura-pura seperti ahli psikologi terhadap orang lain. Sikap seperti ini biasanya tidak disenangi oleh orang lain dengan berbagai alasan.

s. Bersikaplah fleksibeel terhadap orang lain. Bersiap-siaplah setiap saat kalau perlu untuk merubah atau memodivikasikan sikap, pendapatan atau nilai-nilai yang kita miliki.

t. Berbuatlah sesuatu terhadap orang lain seperti apa yang mereka harapkan dari kita. Dalam batas-batas kewenangan yang ada pada diri kita kerjakanlah sesuatu yang dapat memuaskan hati orang lain yang diajak saling berinteraksi.

BAB III

KESIMPULAN

Dari materi yang dibahas bahwa HUMAN RELATIONS sangat diperlukan pada sebuah hotel dan berperan penting dalam pelaksanaan standar operasional prosedur dimana HUMAN RELATIONS ini digunakan untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara tamu dengan karyawan hotel serta antara karyawan dengan karyawan.

PUSTAKA DAFTAR

- 2001, Penghantar supervise perhotelan.

- Suparko SD, 1997, Public relations, Surabaya, papyfus.

Kamis, 21 Januari 2010

Pariwisata, Teknologi Informasi dan Komputer, Manajemen

Pariwisata tidak dipungkiri lagi berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian di Bali. Dalam hal ini pariwisata menimbulkan multiflier effect bagi seluruh aktivitas ekonomi di Bali. Sebagai contoh : Pariwisata membutuhkan sarana akomodasi, restoran, bar dan fasilitas penunjang lainnya. Satu buah hotel yang didirikan akan menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu hotel membutuhkan berbagai supplier untuk memasok kebutuhan hotel. Tenaga kerja yang diserap hotel juga membutuhkan berbagai macam kebutuhan hidupnya, sehingga muncul berbagai macam pusat perbelanjaan, demikian seterusnya rantai ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas pariwisata sebagai akibat dari multilier effect tersebut.

TIK, sangat menunjang perkembangan pariwisata, dengan TIK maka informasi dan komunikasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, efisien dan akurat yang mampu mereduce human error. Sebagai contoh alikasi TIK, yakni penggunaan software LIBICA, FIDELIO sebagai Program Piranti Lunak Hotel Information System. Dengan menggunakan software tersebut informasi mengenai kepastian pemesanan kamar, kepastian rekening tamu, informasi tamu yang akan datang ke hotel, tamu yang sedang tinggal di hotel dan tamu yang akan meninggalkan hotel. Informasi yang cepat, tepat dan akurat tersebut akan membuat tamu puas dan senang tinggal dihotel. Kepuasan tamu akan menyebabkan tamu akan kembali lagi untuk berlibur di Bali dan tinggal di hotel tersebut. Jika dikaitkan dengan tujuan berdirinya sebuah hotel, yakni : Profit through guest satisfaction, and get a repeat business through word of mouth communication, peranan TIK dirasakan sangat vital. Kondisi ini berlaku juga untuk perusahaan lainnya yang berperan sebagai entitas ekonomi (mengelola sumber daya yang ada untuk dapat ditukarkan kepada pasar sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar/konsumen sehingga tercapai kepusan pasar/konsumen)

Dari sisi Ekonomi, yang berfungsi untuk mengelola seluruh sumber daya (man, material, money,machine, method, market) melalui fungsi manajemen (planning, organising, actuating, controlling dan evaluating) sehingga mampu menciptakan produk yang memiliki nilai/value yang mampu memuaskan kebutuhan konsumen, peranan ekonomi dan pariwisata merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Mengacu pada definisi pariwisata : Suatu fenomena yang menyebabkan perpindahan orang dari satu tempat (tempat tinggalnya) ke tempat yang bukan tempat tinggalnya untuk kebutuhan bersenag-senang (leisure), tidak untuk mencari nafkah, menetap dan tidak untuk tujuan vokasional, dimana perpindahan ini membutuhkan berbagai sarana dan prasarana pariwisata. Pada poin ini, kebutuhan sarana dan prasarana pariwisata semestinya dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip ekonomi, khususnya (Manajemen : Keuangan, pemasaran,sdm dan operasional) serta akuntansi.

Dengan manajemen keuangan, maka perusahaan-perusahaan dalam indusri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menggunakan alternative sumber-sumber pendanaan yang murah serta mampu menginvestasikannya pada sector yang menguntungkan.
Dengan manajemen pemasaran, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan menciptakan produk yang mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar.

Dengan manajemen sumber daya manusia, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola sumber daya manusia, sebagai kunci sukses persaingan bisnis.

Dengan manajemen operasional, maka perusahaan-perusahaan dalam industri pariwisata akan mampu mengelola usahanya dengan memperhatikan konsep keberlanjutan (sustainability) melalui konsep CSR (Consumen Social Responsibility), menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan dan menghasilkan produk yang tidak mencemari lingkungan.

Sedikit Tentang Pemasaran Jasa Pariwisata

Bagaimana upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan/penghasilan perusahaan dibidang jasa pariwisata?

  • Salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan adalah melalui penjualan dengan harga mahal. Penjualan dengan harga mahal dapat dilakukan jika konsumen (wisatawan) kurang sensitif terhadap perubahan harga . Dalam hal ini wisatawan lebih mengutamakan kepuasan yang diperolehnya walaupun melakukan pengorbanan yang lebih untuk mendapatkan kepuasan itu. Sebagai contoh, pada segmen pasar hotel bintang lima, meskipun harga kamar rata-rata jauh melebihi segmen pasar hotel bintang empat, tiga dua dan satu, namun tingkat occupancy hotel berbintang lima tidak kalah dengan hotel bintang empat, tiga, dua dan satu. Contoh lain pizza hut vs papa rons perhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga
Bagaimana caranya mengevaluasi harga menu?

  • Sebagai manajer hotel, untuk mengevaluasi harga menu, dapat digunakan analisis menu engineering (suatu analisa seperti matrix bcg, yang memilah ,menu menjadi empat bagian berdasarkan tingkat popularitas dan margin kontribusi per menu), terkait dengan kebijakan harga, menu yang sebaiknya dinaikkan harganya adalah menu yang memiliki kualifikasi populer/laku, tetapi memiliki margin kontribusi yang rendah. Menu yang diturunkan harganya adalah menu yang memiliki kualifikasi tidak laku/kurang populer, tetapi memiliki marjin kontribusi yang tinggi. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah sensitivitas harga dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan harga

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi sensitivitas harga dalam bisnis pelayanan dan perjalanan?

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi sensitivitas harga dalam bisnis pelayanan dan perjalanan adalah :

a. Pengaruh nilai unik

b. Pengaruh kesadaran akan produk pengganti

c. Pengaruh pengeluaran oleh perusahaan

d. Pengaruh manfaat akhir

e. Pengaruh pengeluaran total

f. Pengaruh biaya bersama

g. Pengaruh investasi terpendam

h. Pengaruh mutu harga



Apa yang dimaksud dengan Yield Management ?



Yield management dapat dikatakan pendekatan jangka pendek untuk meningkatkan penghasilan jika hanya mengejar keuntungan jangka pendek, misalnya pada saat peak season pihak hotel menaikkan harga kamar setinggi-tingginya tanpa diiringi peningkatan value (nilai).Yield management dapat dikatakan menciptakan atau memperthankan pelanggan apabila mengejar sustainability/going concern of establihment. Misalnya pada saat peak season pihak hotel tidak menaikkan harga terlalu tinggi jika memang tidak disertai peningkatan value (nilai). Nilai yang dimaksud disini adalah segala macam augmented product maupun service product yang mampu mningkatkan kepuasan wisatawan.

Rabu, 20 Januari 2010

Pariwisata Bali dan Global (Bali and Global Tourism): Pariwisata Sebagai Ilmu (Kajian Ontologis 2)

Pariwisata Sebagai Ilmu (Kajian Ontologis 2)

Seluruhnya di ambil dalam buku Pengantar Pariwisata, Prof.Dr. I Gede Pitana.,M.Sc dan I Ketut Surya Diarta.,SP.,MA.2009.Penerbit Andi, Yogyakarta

"The Study of tourism is the study of this (tourism) phenomenon and its effects" (Mill dan Morrison,1982), secara lebih eksplisit, studi tentang pariwisata adalah : "Studi tentang orang yang berada diluar habitatnya yang biasa, industri yang merespon kebutuhannya, dan dampak-dampak yang dibawa terhadap masyarakat lokal (sosial budaya, ekonomi dan lingkungan fisik)"(Jafari, 1997 :8)

Dengan demikian fenomena pariwisata dapat difokuskan pada tiga unsur yakni : (i) pergerakan wisatawan, (ii) aktifitas masyarakat yang memfasilitasi pergerakan wisatawan, (iii) implikasi atau akibat-akibat pergerakan wisatawan dan aktifias masyarakat yang memfasilitasinya terhadap kehidupan masyarakat secara luas.

Ketiga unsur ini memiliki sifat yang melekat pada setiap objek ilmu pengetahuan. Pergerakan atau perjalanan merupakan salah satu komponen yang elementer dalam pariwisata. Ia merupakan tujuan dan objek penawaran dan permintaan jasa wisata, termasuk objek kajian berbagai cabang ilmu pengetahuan (Freyer,1995). Salah satu di antara sifat tersebut adalah berulang, beragam, saling terkait dan teratur.

Keraguan sementara pihak terkait dengan independensi ilmu pariwisata sudah saatnya dipinggirkan mengingat kini semua cabang ilmu memiliki kebebasan yang sama luas untuk berkembang melalui metode masing masing.

PARIWISATA SEBAGAI ILMU (TINJAUAN ONTOLOGI)


Pariwisata merupakan kegiatan bersenang-senang yang melibatkan banyak orang, ditandai dengan adanya perpindahan (mobilisasi) dari satu tempat yang merupakan tempat tinggalnya ke tempat lain yang bukan tempat tinggalnya, dimana perpindahan ini tidak bertujuan untuk menetap, mencari nafkah. Fenomena ini menimbulkan berbagai macam unit usaha (kegiatan bisnis) yang menimbulkan berbagai macam dampak positip maupun dampak negatif.

Selama ini, pariwisata belum dianggap sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri. Hal ini disebabkan karena pariwisata itu sendiri merupakan aplikasi dari berbagai macam ilmu yang diterapkan dalam sektor pariwisata. Namun pada tanggal 31 Maret 2008 menjadi tonggak sejarah pengakuan pariwisata sebagai ilmu. Pada saat itu keluar surat dari Dirjen Dikti Depdiknas No.947/D/T/2008 dan 948/D/T/2008, yang ditujukan kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang secara eksplisit menyebutkan bahwa DIRJEN DIKTI dapat menyetujui pembukaan jenjang Program Sarjana (S1) dalam beberapa program studi pada STP Bali dan STP Bandung. Dengan diizinkannya pembukaan program studi jenjang sarjana (akademik) ini juga berarti ada pengakuan secara formal bahwa pariwisata adalah sebuah disiplin ilmu yang sejajar dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya.

Status keilmuan pariwisata didekati dengan persyaratan dasar suatu ilmu, yakni : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi

Dari sisi Ontologi, Ilmu pariwisata harus mampu menyediakan informasi ilmiah yang lengkap tentang hakikat pelancongan, gejala pariwisata, wisatawannya sendiri, prasarana dan sarana wisata, objek-objek yang dikunjungi, sistem dan oranisasi, dan kegiatan bisnisnya, serta semua komponene pendukung di daerah asal wisatawan maupun di daerah destinasi wisata. Tetapi sebelum ilmu pariwisata menyajikan sekaligus menjelaskan teori-teori dan banyak informasi aktualnya, sebaiknya dilakukan suatu studi atau pengkajian mendasar secara menyeluruh dan cermat. Oleh sebab itu pertimbangan filsafati terhadap pembentukan ilmu pariwisata perlu dilakukan dengan menekankan tiga aspek pokok, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi . Ilmu pariwisata juga harus dibangun berdasarkan suatu penjelasan yang mendalam, tidak terburu-buru dan perlu dibuatkan taksonominya. Setiap ilmu memiliki objek material dan objek formal. Objek material adalah seluruh lingkup (makro) yang dikaji suatu ilmu. Objek formal adalah bagian tertentu dari objek material yang menjadi perhatian khusus dalam kajian ilmu tersebut. Sesungguhnya objek formal inilah yang membedakan satu ilmu dnegan ilmu yang lain. Disini secara asumtif dapat dikatakan bahwa objek formal kajian (aspek ontologi) ilmu pariwisata adalah masyarakat. Oleh sebab itu pariwisata dapat diposisikan sebagai salah satu ilmu sosial karena focus of interestnya adalah kehidupan masyarakat manusia.

Perhatian Pemerintah Bagi Pendidikan Pariwisata

Pendidikan merupakan dasar bagi sebuah bangsa untuk maju menggapai masa depan yang cerah. Pemerintah berusaha untuk menganggarkan dana pendidikan semakin besar setiap tahunnya, salah satunya adalah upaya pemerintah dalam mengadakan program hibah kompetisi (PHK) berbasis institusi. Untuk memenangkan hibah ini dibutuhkan kerja keras dari semua jajaran civitas akademika, karena proposal yang dibuat haruslah holistik dan komprehensif.

Penyusunan proposal hibah tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan melibatkan banyak pihak, mulai dari pejabat sampai dengan mahsiswa untuk dapat menjaring data yang benar-benar akurat mengenai permasalahan apa yang dihadapi sebuah institusi kampus. Oleh karenanya dibentuk sebuah tim inti (task force) yang bertujuan untuk bekerja fokus terhadap proposal yang akan dibuat. Tim task force terdiri dari beberapa orang yang dianggap kompeten dalam bidang administrasi akademik dan kemahasiswaan.

Setelah membuat proposal awal, maka prosposal ini dikirimkan kepada DITJEN DIKTI untuk dinilai. Apabila layak, maka institusi berhak mengusulkan proposal lengkap untuk dinilai lagi sehingga keluar sebagai pemenang hibah kompetisi institusi. Proses yang cukup panjang dan cukup melelahkan, apalagi yang belum berpengalaman dalam menyusun proposal hibah. Meskipun sudah dapat pelatihan, tetap harus belajar keras memahami aturan-aturan dalam menyusun proposal, agar sesuai dengan arahan dalam buku pedoman penulisan hibah

Adapun kendala-kendala yang dihadapi dalam penyusunan proposal, berdasarkan pengamatan dari reviewer :
  1. Kesalahan dalam penulisan format proposal, misalnya penempatan indikator kinerja, kelengkapan dokumen anggaran, spesifikasi pengadaan. TOR yang menggambarkan kebutuhan khusus mestinya harus dibuat dengan cukup rinci dan jelas, sehingga anggaran yang diusulkan serta maksud dari suatu program dapat dilihat oleh reviewer.
  2. Ratio/benefit cost yang ada. Lembaga/institusi harus memperhatikan jumlah mahasiswa dengan anggaran yang diajukan, jangan sampai jika jumlah mahasiswanya sedikit mengajukan anggaran yang terlalu besar. Perlu diingat, prinsipnya dana yang dikeluarkan pemerintah harus bermanfaat bagi masyarakat banyak dan berpotensi untuk berkembang.
  3. Komitmen untuk mewujudkan Good University Governance perlu dijelaskan dalam kebijakan institusi setingkat renstra harus dibahas dengan jelas dalam proposal. Institusi juga perlu mencantumkan DRK commitment .
  4. Pengkategorisasian indikator kinerja (input dan output) serta penjelsan bagaimana cara mengukur indikator kinerja tersebut.

Komitmen Institusi pada Good University Governance
Paparan evaluasi diri yang dikemukakan menunjukan kinerja institusi yang cukup baik, terutama dalam kemampuannya menjaga mutu pendidikan yang telah menjadikan lembaga memiliki nama baik. Meski demikian, terlihat dari laporan evaluasi diri bahwa institusi belum memiliki kinerja pengelolaan keuangan yang terbuka, sehingga komitmen pada prinsip Good University Governance dalam aspek keuangan, kurang baik. Budaya meerit system untuk pengelolaan sumberdaya manusia juga belum terlihat. Meski demikian, aspek-aspek inilah yang memang dilihat oleh institusi sebagai kelemahan dan akan diperbaiki dengan skema hibah yang diajukan. Institusi sebenarnya telah menyusun suatu rasional usulan bagi komitmen institusi terkait dengan kebijakan yang digariskan institusi melalui rencana strategis institusi kurang dijabarkan dalam proposal. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dari pelaksanaan pembelajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat tidak banyak dibahas. Pada program yang diusulkan juga arah untuk membangun pelaksanaan program yang bermutu tidak mendapatkan porsi yang cukup, lebih terobsesi untuk mendongkrak peneerimaan mahasiswa baru, bukannya mencari penyebab dan akar masalah, mengapa penerimaan jumlah mahasiswa baru menurun.

Selasa, 19 Januari 2010

टूरिस्म एंड एन्विरोंमेंट इन Bali

Bali is a popular international tourist destination, the demand by domestic tourists and foreign tourists (international). In Bali itself there are many tourist areas and attractions that have been known since ancient times (eg: Sanur, Kuta, Ubud, Tanah Lot, Pura Besakih, Tampak Siring etc.) as well as area and new attractions developed these past decades (for example: tourism area Nusa Dua, Jimbaran, Jati Luwih, Yeh panes, etc.). The more attractive the tourist island of Bali, which is reflected by the number of tourist visits tends to increase from year to year, as well as the number of hotel rooms and also the number of restaurants grew, it This indicates that the island of Bali increasingly 'exploits were' for tourism activities. One thing that can not be lost in reality is the concept of 'rwa-bineda', 'jele-melah', 'good-bad'. This concept also applies to the world of tourism on the island of Bali. Both sides provided by tourism activities on the island of Bali, was clearly shared by all people of Bali, for example: Increased community living standards, rapid development, Cultural Exchange, The decline of unemployment. Both sides not contributed by tourism activities nor of course was inevitable, such as environmental pollution (air, plastic waste, water, soil, sound), lunturnya noble values ancestral cultural heritage (commodification of culture, loss of'bali 'the people bali) and the emergence of social problems (gambling, liquor, prostitution, etc.) Of particular interest in order to maintain ke'ajegan' Bali, of course, is the negative impact caused by tourism activities. By observing and observe phenomena that arise, it would appear concerned about the destruction of this beloved island of Bali, if the damage incurred is not immediately addressed. This paper aims to examine the negative issues arising from tourism activities. To be able to represent, then these issues are classified into five categories of issues, namely: (i) environmental issues, (ii) cultural issues, (iii) social issues, (iv) health issues and (v) the issue of traffic congestion. All these issues are observed in the three tourist attractions, namely the tourist (i) Kuta, (ii) Bedugul, including lakes Buyan, Tamblingan Bratan and lakes, and (iii) Sanur.
1. Kuta Kuta is a tourist attraction that has been known since ancient times (from the 60s). Kuta beach is beautiful and very close access to the Ngurah Rai international airport, making it as a 'tourist village'. Kuta in Badung Regency, as a contributor to local revenue from major tourism activities. The positive impact of tourism in Kuta had no longer be denied. The establishment of hotels, restaurants, art markets, currency exchange, entertainment tonight, no doubt raise the economic status of indigenous kuta. If the first of about 80 years the population live from Kuta most marine sector (fishermen) and livestock with a minimal income, Kuta is now natives most not have to work hard. With the capital of the estate is well managed, the native land kuta mostly manages to shops, boarding houses, hotels and business activities related to tourism. The negative impact of tourism in Kuta reflected on the issues that arise, the author comes from observations on tourism object kuta, namely: a. Environmental Issues Aberration coast (along the beach kuta), this is thought to cause global warming, this condition does not just happen at Kuta Beach, but also the entire beach in Bali. Waste plastic (along the sidewalks and gutters), it is believed the cause was kuta less disciplined society, as well as tourists in a plastic trash, also has not realized producers to reduce use of plastic packaging and replace it with other materials more environmentally friendly flood, caused by lack of discipline in the trash society, there is garbage to drains / gutters. Another suspected cause is a lack of drainage system either. B. Cultural issues Reduced Balinese sacred ceremonies (especially along the beach kuta). At Melasti ceremony, many tourists who witnessed the ceremony using a bikini, this is certainly a stark contrast with the community so preoccupied bali ceremony. C. Social Issues Prostitution, a biological needs that violate religious norms and morals. Transactions are often done in the entertainment center that night, the hotels along the road even legian. Drug Free sex d. Health Issues Flu Dengue fever Pig (international gateway) e. Traffic issues on working hours ceremony

2. Bedugul Bedugul Bali, is one tourist attraction in Bali are also options. This tourism object is located in Tabanan district and famous for its lake and restaurant. Bedugul temperature much cooler than other resorts in Bali, with a temperature of approximately 18 drajat Celsius, would provide its own ambience during a holiday in Bali. Bali tourism is similar to that offered in Kintamani. Bedugul is famous for the beauty of the lake Tamblingan and beauty can be enjoyed by renting a boat or a boat to get around the lake. This tourism object is also a stopover to visit other tourist attractions such as Tanah Lot, Sangeh, Taman Ayun and other attractions.
a. Environmental Issues Pendangkalan Lake, this is thought to cause the illegal logging, land funsi changes around the lake and hills, on initinya pendangkalan caused by berkurangya trees and hills around the lake, so the decrease in water absorption (bio-pores) of plastic waste (along the sidewalks and gutters ), it is believed the cause was lack of discipline masyarakbedugulat, also tourists in plastic trash, also has not realized producers to reduce use of plastic packaging and replace it with other materials more environmentally friendly water Kekuarangan, allegedly due to lack of surrounding hills and pepehonan lake due to illegal logging and land use change in b. Acculturation and Cultural Issues of culture, shifting the composition of the population which at present is the trend that occurred outside the Balinese population more and more came to make a living. During a synergy will not go wrong. Instead Balinese culture will be eroded if the future more and more land was sold to new settlers. c. Social Issues Based on observation, in Bedugul potential social problems that arise are prostitution, given the nature Bedugul quiet and comfortable, away from the crowd. This condition increases during low season, ie during a period of holiday (Monday to Thursday) and the months March, April, October november. Low occupancy rate tends to make the managers of hotels and inns less selective in accepting guests. d. Dengue fever health issues e. Traffic Issues On holidays (Saturday and Sunday) 3 ceremony. Denpasar and Sanur, Denpasar Bali, is one tourist attraction in Bali are also options. As the capital of the province and municipalities as well, Denpasar offers a few worthy tourist attractions that you visit including the Museum of Bali, Art Center, Sanur and other interesting tourist attraction. Art Center is used as a place of cultural performances and crafts people of Bali. Each year at this place the party held art Bali (PKB) which began in mid-June until mid-July. Arts and handicrafts from various districts in the island of the gods held a course interesting visit local and foreign tourists who were vacationing in Bali. Meanwhile, Sanur beach is also a favorite place in Bali. Bali tourism development originally built here by the hotel Inna Grand Bali Beach. Sanur beach itself offers a comfortable atmosphere and the soothing sunrise eyes of visitors. a. Environmental Issues Aberration coast (along the beach sanur), this is thought to cause global warming, this condition does not just happen in sanur beach, but also the entire beach in Bali. Plastic garbage (along the sidewalks and gutters), it is believed the cause was lack of public discipline sanur, also tourists in plastic trash, also has not realized producers to reduce use of plastic packaging and replace it with other materials more environmentally friendly flood, due to lack of discipline in the trash society, there are garbage into the gutter / ditch. Another suspected cause is a lack of drainage system either. b. Cultural issues Reduced Balinese sacred ceremonies (especially along the beach kuta). At Melasti ceremony, many tourists who witnessed the ceremony using a bikini, this is certainly a stark contrast with the community so preoccupied bali ceremony. c. Social Issues Prostitution, a biological needs that violate religious norms and morals. Transactions are often done in the entertainment center that night, the hotels, especially in areas semawang-sanur. Drug Free sex d. Health Issues Flu Dengue fever Pig (international gateway) e. Traffic issues on working hours ceremony

Senin, 18 Januari 2010

ISU- ISU PENCEMARAN PADA OBJEK WISATA DI BALI

Bali merupakan daerah tujuan wisata internasional, yang diminati oleh wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara (internasional). Di Bali sendiri ada banyak kawasan wisata dan obyek wisata yang sudah dikenal sejak dahulu kala (misalnya : Sanur, Kuta, Ubud, Tanah Lot, Pura Besakih, Tampak Siring dsb) maupun kawasan dan obyek wisata yang baru dikembangkan beberapa dekade belakangan ini ( misalnya : kawasan wisata Nusa Dua, Jimbaran, Jati Luwih, Yeh Panes, dsb).

Semakin diminati Pulau Bali oleh wisatawan, yang tercermin dari jumlah kunjungan wisatawan yang cendrung meningkat dari tahun ke tahun, juga jumlah kamar hotel dan juga jumlah restaurant yang semakin bertambah, hal ini menunjukkan bahwa Pulau Bali semakin ‘ter-eksploitasi’ untuk kegiatan pariwisata. Suatu hal yang tidak mungkin hilang dalam kenyataan adalah konsep ‘rwa-bineda’, ‘jele-melah’, ‘baik-buruk’. Konsep ini juga berlaku bagi dunia pariwisata di Pulau Bali ini. Sisi baik yang diberikan oleh kegiatan pariwisata di Pulau Bali, jelas sudah dirasakan bersama oleh segenap masyarakat Pulau Bali, misalnya : Meningkatnya taraf hidup masyarakat, Pesatnya pembangunan, Pertukaran Budaya, Berkurangnya pengangguran. Sisi tidak baik yang disumbangkan oleh kegiatan pariwisata-pun tentunya tidak dapat dielakkan, seperti : pencemaran lingkungan (udara, sampah plastik, air, tanah, suara), lunturnya nilai-nilai luhur warisan budaya nenek moyang (komodifikasi budaya, hilangnya ke-‘bali’an orang bali) dan munculnya masalah sosial (judi, minuman keras, pelacuran dsb)

Yang perlu diperhatikan demi menjaga ke’ajegan’ Bali, tentunya adalah dampak negatif yang ditimbulkan akibat kegiatan pariwisata. Dengan mengamati dan mencermati fenomena-fenomena yang timbul, maka akan muncul kekhawatiran akan hancurnya Pulau Bali tercinta ini, jika kerusakan-kerusakan yang timbul tidak segera dibenahi. Paper ini bertujuan untuk mencermati isu-isu negatif yang timbul akibat aktivitas pariwisata. Untuk dapat mewakili, maka isu-isu tersebut digolongkan dalam lima kategori isu, yakni : (i) isu lingkungan, (ii) isu budaya , (iii) isu sosial, (iv) isu kesehatan dan (v) isu kemacetan lalu lintas. Kesemua isu ini diamati pada tiga objek wisata, yakni pada objek wisata (i) Kuta, (ii) Bedugul, meliputi danau buyan, bratan dan danau tamblingan, dan (iii) Sanur.

1. Kuta

Kuta merupakan objek wisata yang sudah dikenal sejak dahulu kala (mulai tahun 60an). Pantai Kuta yang indah dan akses yang sangat dekat dengan bandara internasional Ngurah Rai, menjadikannya sebagai ‘kampung wisatawan’. Kuta berada dalam wilayah Kabupaten Badung, sebagai penyumbang pendapatan asli daerah yang besar yang berasal dari kegiatan pariwisata.

Dampak positif pariwisata di Kuta sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Berdirinya hotel-hotel, restaurant, pasar seni, penukaran uang, hiburan malam tak pelak mengangkat status ekonomi penduduk asli kuta. Jika dahulu sekitar tahun 80-an penduduk Kuta kebanyakan hidup dari sektor kelautan (nelayan) dan peternakan dengan pendapatan yang minim, sekarang penduduk asli Kuta sebagian besar tidak perlu bekerja keras. Dengan modal tanah warisan yang dikelola dengan baik, penduduk asli kuta kebanyakan mengelola lahannya untuk pertokoan, rumah kos, hotel dan kegiatan bisnis yang berhubungan dengan pariwisata.

Dampak negatif pariwisata di Kuta tercermin pada isu-isu yang timbul, berasal dari observasi penulis pada objek wisata kuta, yakni :

a. Isu Lingkungan

Aberasi pantai (sepanjang pantai kuta), hal ini diduga penyebabnya adalah pemanasan global, kondisi ini tidak saja terjadi pada Pantai Kuta, melainkan juga seluruh pantai yang ada di Bali.

Sampah plastik (disepanjang trotoar dan selokan), hal ini diduga penyebabnya adalah kurang disiplinnya masyarakat kuta, juga wisatawan dalam membuang sampah plastik, juga belum sadarnya produsen-produsen untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan menggantinya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan

Banjir, disebabkan kurang disiplinnya masyarakat dalam membuang sampah, masih ada yang membuang sampah ke got/selokan. Diduga penyebab lainnya adalah sistem drainase yang kurang baik.

b. Isu Budaya

Berkurangnya kesakralan upacara adat Bali (terutama di sepanjang pantai kuta). Pada saat melaksanakan upacara melasti, banyak wisatawan yang menggunakan bikini menyaksikan upacara, hal ini tentunya sangat kontras dengan masyarakat bali yang begitu khusuk melaksanakan upacara.

c. Isu Sosial

Prostitusi, merupakan pemenuhan kebutuhan biologis yang melanggar norma agama dan kesusilaan. Transaksi sering dilakukan di pusat-pusat hiburan malam, hotel-hotel bahkan di sepanjang jalan legian.

Narkoba

Free sex

d. Isu Kesehatan

Demam berdarah

Flu Babi (gerbang internasional)

e. Isu Kemacetan Lalu Lintas

Pada jam kerja

Upacara adat

2. Bedugul

Bedugul Bali, merupakan salah satu objek wisata pilihan di Bali juga. Objek wisata ini terletak di kabupaten Tabanan dan terkenal akan danau dan restorannya.

Suhu udara di Bedugul jauh lebih dingin dibandingkan tempat wisata lainnya di Bali, dengan suhu kurang lebih 18 drajat celcius, tentu memberikan suasana tersendiri selama liburan di Bali. Tempat wisata Bali ini mirip dengan yang ditawarkan di Kintamani.

Bedugul terkenal akan keindahan danau Tamblingan dan keindahannya dapat dinikmati dengan menyewa speedboat atau perahu untuk berkeliling danau. Objek wisata ini juga merupakan persinggahan untuk mengunjungi objek wisata lainnya seperti Tanah Lot, Sangeh, Taman Ayun dan tempat wisata lainnya.

a. Isu Lingkungan

Pendangkalan Danau, hal ini diduga penyebabnya adalah penebangan hutan secara liar, perubahan funsi lahan sekitar danau dan bukit, pada initinya pendangkalan disebabkan oleh berkurangya pepohonan disekitar danau dan bukit, sehingga berkurangnya serapan air (bio pori)

Sampah plastik (disepanjang trotoar dan selokan), hal ini diduga penyebabnya adalah kurang disiplinnya masyarakbedugulat , juga wisatawan dalam membuang sampah plastik, juga belum sadarnya produsen-produsen untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan menggantinya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan

Kekuarangan air, diduga disebabkan kurangnya pepehonan disekitar bukit dan danau akibat penebangan liar dan perubahan fungsi lahan

b. Isu Budaya

Akulturasi budaya, terjadi pergeseran komposisi jumlah penduduk dimana pada saat ini trend yang terjadi adalah penduduk luar Bali semakin banyak datang untuk mencari penghidupan. Selama terjadi sinergi tidak akan terjadi masalah. Sebaliknya budaya Bali akan terkikis jika kedepannya semakin banyak lahan yang dijual kepada penduduk pendatang.

c. Isu Sosial

Berdasarkan pengamatan, di bedugul potensi masalah sosial yang muncul adalah prostitusi,mengingat keadaan alam bedugul yang sepi dan nyaman, jauh dari keramaian. Kondisi ini bertambah pada saat low season, yakni pada saat masa tidak libur (Senin s/d kamis) dan bulan-bulan maret, april, oktober november. Tingkat hunian yang rendah cenderung membuat pihak pengelola hotel dan penginapan kurang selektif dalam menerima tamu.

d. Isu Kesehatan

Demam berdarah

e. Isu Kemacetan Lalu Lintas

Pada hari-hari libur (sabtu dan minggu)

Upacara adat

3. Denpasar dan Sanur

Denpasar Bali, merupakan salah satu objek wisata pilihan di Bali juga. Sebagai ibukota provinsi dan juga kotamadya, Denpasar menawarkan beberapa objek wisata yang patut anda kunjungi diantaranya Museum Bali, Art Centre, Sanur dan objek wisata menarik lainnya.

Art Centre digunakan sebagai tempat pertunjukan budaya dan kerajinan masyarakat Bali. Tiap tahunnya di tempat ini diadakan pesta kesenian Bali ( PKB) yang dimulai di pertengahan bulan Juni sampai pertengahan bulan Juli.

Kesenian dan hasil kerajinan dari berbagai kabupaten di pulau dewata digelar yang tentunya menarik kunjungan wisatawan lokal maupun asing yang sedang berlibur di Bali.

Sedangkan pantai Sanur juga merupakan tempat favorit di Bali. Perkembangan pariwisata Bali awalnya di sini dengan dibangunnya hotel Inna Grand Bali Beach. Pantai Sanur sendiri menawarkan suasana pantai yang nyaman dan sunrise yang menyejukkan mata pengunjung.

a. Isu Lingkungan

Aberasi pantai (sepanjang pantai sanur), hal ini diduga penyebabnya adalah pemanasan global, kondisi ini tidak saja terjadi pada Pantai sanur, melainkan juga seluruh pantai yang ada di Bali.

Sampah plastik (disepanjang trotoar dan selokan), hal ini diduga penyebabnya adalah kurang disiplinnya masyarakat sanur, juga wisatawan dalam membuang sampah plastik, juga belum sadarnya produsen-produsen untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dan menggantinya dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah lingkungan

Banjir, disebabkan kurang disiplinnya masyarakat dalam membuang sampah, masih ada yang membuang sampah ke got/selokan. Diduga penyebab lainnya adalah sistem drainase yang kurang baik.

b. Isu Budaya

Berkurangnya kesakralan upacara adat Bali (terutama di sepanjang pantai kuta). Pada saat melaksanakan upacara melasti, banyak wisatawan yang menggunakan bikini menyaksikan upacara, hal ini tentunya sangat kontras dengan masyarakat bali yang begitu khusuk melaksanakan upacara.

c. Isu Sosial

Prostitusi, merupakan pemenuhan kebutuhan biologis yang melanggar norma agama dan kesusilaan. Transaksi sering dilakukan di pusat-pusat hiburan malam, hotel-hotel terutama di daerah semawang-sanur.

Narkoba

Free sex

d. Isu Kesehatan

Demam berdarah

Flu Babi (gerbang internasional)

e. Isu Kemacetan Lalu Lintas

Pada jam kerja

Upacara adat