Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 23 Januari 2012

Pariwisata Budaya


Pemerintah Propinsi Bali telah menetapkan ketentuan mengenai pariwisata budaya dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1974 dan kemudian diperbaharui melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1991 yang pada Bab I pasal 1 disebutkan bahwa Pariwisata Budaya adalah jenis kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh Agama Hindu yang merupakan bagian dari kebudayaan Nasional sebagai potensi dasar yang paling dominan, didalamnya tersirat suatu cita-cita akan adanya suatu hubungan timbal balik antara pariwisata dengan kebudayaan sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras, dan seimbang Ardika (2003:49).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada Perda Nomor 3 Tahun 1991, Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan penyelenggaraan pariwisata budaya adalah untuk memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata, mempertahankan norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan agama dan kehidupan alam Bali yang berwawasan lingkungan hidup, mencegah dan meniadakan pengaruh-pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan kepariwisataan. Visi pembangunan pariwisata Bali adalah terwujudnya pariwisata budaya yang berkualitas dan berkelanjutan, berlandaskan Tri Hita Karana, berdaya saing global, dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Laster Borley dalam makalah yang ditulis Tjatera (2008:8) menyatakan pariwisata budaya dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang memungkinkan orang untuk menjelajahi dan memperoleh pengalaman dari perbedaan cara hidup orang lain, merefleksikan adat istiadatnya, tradisi religiusnya, dan ide-ide intelektual yang terkandung dalam warisan budaya yang belum dikenalnya.

Pariwisata budaya menurut Geria (1983:13) dalam bukunya yang berjudul “Pariwisata dan Dinamika Kebudayaan Lokal” didefinisikan sebagai kegiatan pariwisata di Bali yang menitik beratkan pada perkembangan segi-segi budaya Bali yang pada dasarnya bersumber pada Agama Hindu.


Daftar Pustaka

Ardika, I Wayan. 2003. Pariwisata Budaya berkelanjutan: Refleksi dan Harapan di Tengah Perkembangan global. Denpasar: Program Studi Magister Kajian Pariwisata, Program Pascasarjana Universitas Udayana

Geria. 1983. Pariwisata dan Dinamika Kebudayaan Lokal. Denpasar: Program Studi Magister Kajian Pariwisata, Program Pascasarjana Universitas Udayana

Tjatera, I Wayan. 2008. Pariwisata Dalam Pembangunan Bali. Denpasar: Makalah Kuliah Matrikulasi Program Pascasarjana (S2) Pariwisata.


Budaya


Kata “Kebudayaan” berasal dari kata Sansekerta Buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan sebagai: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal” (A.L Kroeber dan C. Kluckhohn dalam Kontjaraningrat, 1980:183). Pendapat lainnya dikemukakan dalam buku yang sama oleh P.J Zoetmulder dan M.M Djojodigoeno. Kata budaya didefinisikan sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti “daya dari budi”. karena itu mereka membedakan “budaya” dari “kebudayaan”. Demikianlah “budaya” adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa, sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.

Dalam istilah “Antropologi-budaya” perbedaan itu ditiadakan. Kata “budaya” di sini hanya dipakai sebagai suatu singkatan saja dari “kebudayaan” dengan arti yang sama. Dalam Koentjaraningrat (1980:183) kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dalam buku ini juga disebutkan oleh Koentjaraningrat bahwa kata culture, yang merupakan kata asing adalah sama artinya dengan “kebudayaan”. Berasal dari kata Latin colere yang berarti “mengolah, mengerjakan” terutama mengeolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai “segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam.”

Dalam buku yang berjudul “Pengantar Antropologi” ini, (1983:206) disebutkan pula oleh Koentjaraningrat bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia. Ketujuh unsur yang dapat disebut sebagai isi pokok dari tiap kebudayaan di dunia itu adalah (1) bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi social; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) sistem religi; dan (7) kesenian.


Daftar Pustaka
Kontjaraningrat. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru

Minggu, 15 Januari 2012

Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Loyalitas Pelanggan

Menurut Cronin dan Taylor dalam Bahar dkk (2009:972), kepuasan konsumen merupakan faktor utama dalam menilai kualitas pelayanan, dimana konsumen menilai kinerja pelayanan yang diterima dan yang dirasakan langsung terhadap produk suatu layanan. Kualitas pelayanan ditentukan oleh bagaimana tingkat kesesuaian antara layanan yang diberikan dengan yang diharapkan oleh konsumen. Semakin tinggi kualitas layanan yang dirasakan akan semakin tinggi tingkat kepuasan pengguna/pelanggan, selanjutnya semakin berdampak positif perilaku niat seseorang dalam menyikapi layanan tersebut. Beberapa studi mengemukakan bahwa kualitas pelayanan memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan (Tjiptono, 2004 : 72) dan kualitas pelayanan mempengaruhi kepuasan dalam Musanto (2004:128) menyatakan bahwa loyalitas pelanggan merupakan suatu variabel endogen yangdisebabkan oleh kombinasi dari kepuasan sehingga loyalitas pelanggan merupakan fungsi dari kepuasan. Jika hubungan antara kepuasan dengan loyalitas pelanggan adalah positif, maka kepuasan yang tinggi akan meningkatkan loyalitas pelanggan. Dalam hal ini loyalitas pelanggan berfungsi sebagai Y sedangkan kepuasan pelanggan berfungsi sebagai X. pelanggan dan pada akhirnya mempengaruhi loyalitas dalam hal ini termasuk minat untuk membeli kembali (Sharp, 2000 :35).

Dalam pasar yang tingkat persaingannya cukup tinggi, perusahaan mulai bersaing untukmemberikan kepuasan kepada pelanggannya agar pelanggan mempunyai kesetiaan yang tinggiterhadap jasa layanan Iklan yang ditawarkan oleh perusahaan.Menurut Jones dan Sasser(1994) dalam Musanto (2004:128) menyatakan bahwa loyalitas pelanggan merupakan suatu variabel endogen yangdisebabkan oleh kombinasi dari kepuasan sehingga loyalitas pelanggan merupakan fungsi darikepuasan. Jika hubungan antara kepuasan dengan loyalitas pelanggan adalah positif, makakepuasan yang tinggi akan meningkatkan loyalitas pelanggan. Dalam hal ini loyalitas pelangganberfungsi sebagai Y sedangkan kepuasan pelanggan berfungsi sebagai X. Pengaruh antara kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan sebagai berikut:



Keterangan:

Dalam pasar yang tingkat persaingan cukup tinggi, kepuasan pelanggan dan loyalitaspelanggan saling berhubungan. Hal ini dapat disebabkan karena dalam kondisi ini banyakbadan usaha yang menawarkan produk dan jasa sehingga konsumen mempunyai banyak pilihanproduk pengganti dan cost switching sangat rendah, dengan demikian produk atau jasa menjaditidak begitu berarti bagi konsumen. Hubungan antara kepuasan pelanggan dan loyalitaspelanggan tersebut diatas digambarkan garis lurus dan searah, yang artinya adalah bila badanusaha meningkatkan kepuasan kepada pelanggan maka loyalitas pelanggan juga akan meningkatbegitu pula sebaliknya bila badan usaha menurunkan kepuasan pelanggan maka secara otomatisloyalitas pelanggan juga akan menurun. Jadi dalam hal ini kepuasan pelanggan merupakanpenyebab terjadinya loyalitas pelanggan sehingga kepuasan pelanggan sangat mempengaruhiloyalitas pelanggan.





Daftar Pustaka

Bahar, Taslim, Kusbiantoro, Tamim dan Frazilla. 2009. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Dan Loyalitas Penggunaan Moda Angkutan Umum Informal. Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009. http://repository.petra.ac.id/14461/1/115.pdf

Musanto, Trisno, 2004, Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan: Studi Kasus pada CV. Sarana Media Advertising Surabaya, Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 6, No. 2, September 2004: 123 – 136, Jurusan Ekonomi Manajemen, Fakultas Ekonomi – Universitas Kristen Petra http://puslit.petra.ac.id/journals/management/

Tjiptono, Fandi, 2000, Strategi Bisnis Modern, penerbit: Andi offset, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Yogyakarta.

_____________. 2002. Manajemen Jasa, Edisi kedua, Cetakan ketiga, Yogyakarta: Penerbit Andi Offset

_____________. 2004. Manajemen Jasa, Edisi kedua, Cetakan keempat, Yogyakarta: Penerbit Andi Offset